Manusia, kata para ahli antropolog, akan selalu mencari patron.
Dalam teorinya patron klien, ada yang relasi timbal balik: yang sangat kuat memberinya perlindungan, yang lemah lemah memberinya loyalitas.
Dalam sebuah bahasa per kampungan, patron itu lebih populer dengan arti dekengan.
Yang ada di dunia politik, dekengan bisa berarti partai, koalisi, dan para tokoh karismatik.
Di dalam dunia sosial, dekengan berarti sebuah kenalan para pejabat, preman, atau para orang orang kaya yang bisa untuk dimintai tolong.
Secara psikologis, manusia memang akan cenderung mencari locus of securiti, sebuah titik aman di luar dirinya.
Pendek kata, siapa yang akan membackup hidupmu, itulah sebuah dekengan.
Siapa yang akan jadi penopang, penyokong, atauoun paling tidaknya, siapa yang akan kamu sebut kalau ditanyain “kowe iku wonge sopo?” Namun Gus Iqdam membalikkan kata kerangka ini dengan suatu kalimat yang sederhana tapi teologis:
“Dekengan paling yang kuat itu ya dekengan pusat.” Pusat di sini bukan hanya sekadar koordinat. Dia adalah metafora eksistensial: sebuah sumber kehidupan, pusat gravitasi keberadaannya, yang di dalam kosmologi Islam ia disebut Allah al-Ahad, ia Yang Tunggal, Yang tidak bergantung pada siapa pun.
Jika manusia menggantungkan hidupnya pada sebuah dekengan sosial, dia terjebak di dalam hukum relativitas: pejabat akan bisa turun jabatannya, orang kaya yang jatuh miskin, preman yanv pensiun, bahkan kiyai pun fana.
Semua dekengan di dunia akan tunduk pada sebuah hukum entropi: melemah, lapuk, sirna. Dekengan pusat sangat berbeda. Dia tidak tunduk pada sebuah hukum waktu. Dalam filsafat, dia disebut juga causa prima, sebab pertama kali yang tidak disebabkan, pusat yang jadi sebuah referensi segala pusat.
Lucunya, manusia modern lebih sangat percaya statistik, grafik, dan sebuah jaringan sosial ketimbang pada dekengan pusat.
Padahal, dalam sebuah epistemologi tauhid, semua itu hanyalah sebuah wasilah, bukan ghayah. Humor spiritual dari Gus Muhammad Iqdam Kholid yang sederhana, kalau dekenganmu itu lurah, hidupmu hanya sebatas lurah. Kalau menteri, hanya sebatas menteri.
Tapi kalau dekenganmu dialah pusat, daya tahan hidupmu sama daya tahan semesta. Dan di situlah kejutan yang sangat kecil yang lembut, ternyata dari sejak awal, bukan kitalah yang memilih itu dekengan pusat. Tetapi justru pusatlah yang akan lebih dulu mendekengi kitanya, bahkan sejak kita masih dalam rahim, sebelum kita belum tahu arti kata sebuah aman.
Komentar
Posting Komentar